Sabtu, 17 April 2010

Mudahnya Mengeluh, Sukarnya Bersyukur

Begitu mudah sekali melontarkan keluhan. Keluhan demi keluhan keluar dari bibir tanpa disadari. Kita mengeluh atas perkara-perkara yang remeh. Kita mengeluh atas perkara-perkara yang tidak mendatangkan kebaikan. Kita mengeluh dan asyik mengeluh. Andai dapat ditukar setiap bait keluhan itu dengan rupiah, pasti terbasmi kemiskinan di muka bumi. Namun,kita mengeluh tatkala kita ditimbuni dengan berbagai kesenangan.

Kita mengeluh karena makanan kegemaran tidak disediakan, sedangkan perut semakin membesar karena kekenyangan. Kita mengeluh kerana kepanasan, sedangkan angin disediakan tanpa bayaran. Kita mengeluh atas sekelumit kekurangan, sedangkan kelebihan sebanyak buih di lautan dibiarkan.

Allah S.W.T. berfirman, "Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak dapat menentukan jumlahnya" (An-Nahl: 18).
Di saat kita tenggelam dalam keluhan diri sendiri, panca indera kita tidak lagi mampu memainkan peranannya untuk melihat, mendengar, merasai dan menghayati pemberian Allah yang tiada henti-hentinya. Lantaran itu, begitu sukar sekali untuk menyebutkan kalimat Alhamdulillah sebagai tanda kesyukuran seorang hamba kepada Khaliqnya. Itulah hakikitnya. Memang manusia senantiasa lalai dan lupa. Manusia mempunyai keinginan yang tiada batasan. Manusia tidak pernah puas dengan apa yang dimiliki..Kecuali orang-orang yang bersyukur.

Pada zaman Sayyidina Umar Al-Khattab, ada seorang pemuda yang sering berdoa di sisi Baitullah yang maksudnya: "Ya Allah! Masukkanlah aku dalam golongan yang sedikit" Doa beliau didengar oleh Sayyidina Umar ketika beliau (Umar) sedang melakukan tawaf di Kaabah. Umar merasa heran dengan permintaan pemuda tersebut. Selepas selesai melakukan tawaf, Sayyidina Umar memanggil pemuda berkenaan lalu bertanya: "Kenapakah engkau berdoa sedemikian rupa (Ya Allah! masukkanlah aku dalam golongan yang sedikit), apakah tiada permintaan lain yang boleh engkau mohon kepada Allah?" Pemuda berkenaan menjawab: "Ya Amirul Mukminin! Aku membaca doa berkenaan karena aku (merasa) takut dengan penjelasan Allah seperti firman-Nya dalam surah A-A'raaf ayat 10 yang bermaksud: "Sesungguhnya Kami (Allah) telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami adakan bagimu di muka bumi (sumber/jalan) penghidupan. (Tetapi) amat sedikitlah kamu bersyukur" Aku memohon agar Allah memasukkan aku dalam golongan yang sedikit, yaitu (lantaran) terlalu sedikit orang yang tahu bersyukur kepada Allah" jelas pemuda ini. Mendengar jawaban itu, Umar Al-Khattab menepuk kepalanya sambil berkata kepada dirinya sendiri: "Wahai Umar, alangkah jahilnya engkau, orang ramai lebih alim daripadamu"

SubhanaLLah. Semoga kita semua termasuk ke dalam golongan yang sedikit ini, Amiin...

Jadi, sama-samalah kita membina tekad untuk memberantas keluhan dan meningkatkan kesyukuran karena Dia telah berjanji "Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu berfirman: Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih." (Ibrahim: 7)


Sumber: www.iluvislam.com
Read More..

Kamis, 15 April 2010

Ada Saatnya...

Diam itu emas, tetapi ada saatnya diam tidak selalu emas

Jujur itu baik, tetapi ada saatnya jujur tidak selalu baik

Gagal itu terpuruk, tetapi ada saatnya gagal tidak selalu terpuruk


Cinta itu indah, tetapi ada saatnya cinta tidak selalu indah

Mengalah itu lemah, tetapi ada saatnya mengalah tidak selalu lemah

Mimpi itu khayalan, tetapi ada saatnya mimpi tidak selalu khayalan

Uang itu segalanya, tetapi ada saatnya uang tidak selalu segalanya

Dunia itu kejam, tetapi ada saatnya dunia tidak selalu kejam

Kaya itu keinginan, tetapi ada saatnya kaya tidak selalu keinginan

Pada waktu tertentu, segala sesuatu yang awalnya kita terka benar tidak selalu demikian. Ada saat tertentu dimana kita melakukan sesuatu atau menilai orang lain meleset dari "rumus". Untuk itu, mari gunakan pemberian-Nya untuk mengenali waktu/situasi dan mengetahui sikap yang harus kita lakukan agar kita tidak terpatok pada "rumus" kehidupan yang sudah melekat di alam sadar kita atau bahkan alam bawah sadar kita.
Read More..

Kamis, 01 April 2010

The Miracle of Gratitude

Hidup ini mudah jika kita terbuka. Terbuka melihat hal-hal kecil di sekitar kita, terbuka menerima cobaan yang sedikit menghambat perjalanan kita, terbuka dalam berpikir begitu beruntungnya kita jika dibandingkan dengan orang lain, dan masih banyak lagi keterbukaan yang harus kita lakukan dalam menyikapi hidup. Untuk selanjutnya kita perlu berterima kasih kepada Tuhan atas takdir-Nya yang indah untuk kita. Itulah Bersyukur...

Dengan bersyukur, ibarat kata punya uang seribu saja kita merasa kaya. Selain itu, bersyukur merupakan obat ampuh untuk mengobati sifat iri. Yup..sifat dimana kita merasa cemburu ketika orang lain bahagia, sifat yang menunjukkan kalau kita tidak punya sesuatu yang bisa kita banggakan atau bahkan sifat yang bisa menghambat kehidupan kita. Tidaklah sulit untuk melakukan ini. Hanya perlu kepekaan terhadap apa yang telah kita miliki dan peka terhadap sekitar kita.

Finally, you will feel the beauty of life like what people and songs say. This Is The Miracle of Gratitude :D
Read More..