Jumat, 04 Februari 2011

Pantang Mengeluh

Sebagai manusia, wajarlah jika sesekali kita mengeluh dengan keadaan yang tidak sesuai keinginan. Tetapi, tidak pantas rasanya jika setiap kali kita menemukan hal yang melenceng saja dari apa yang kita inginkan dihadapi dengan mengeluh.

Mengeluh sepertinya sudah menjadi “tren”. Contohnya saja dengan adanya jejaring sosial yang memungkinkan untuk kita bisa share apapun yang kita alami. Ini secara tidak langsung dapat menjadi hal pelancar mengeluh. Pentingkah menceritakan semua yang menimpa kita kepada semua orang? Apakah dengan menceritakan semuanya dapat menghilangkan masalah itu? Tentu tidak.

Memang, mengeluh sah-sah saja untuk mencari solusi masalah kita. Yang terjadi ketika kita mengeluh, apakah kita berpikir untuk menemukan solusi? Kebanyakan kita tidak berpikir jauh seperti itu. Secara tersirat, tujuannya hanya ingin orang mendengarkan keluh kesah kita.

Sebenarnya, dengan atau tanpa mengeluh hidup tetaplah hidup. Yang harus dijalani walaupun lelah, yang harus dihadapi walaupun berat, yang harus dimengerti walaupun rumit. Memperlihatkan kelemahan kita justru akan menjadi negatif.

Sebegitu susahkah untuk bersyukur?
Read More..

Sabtu, 29 Januari 2011

Jadikan Pohon Sebagai Tren Dunia

Beredarnya isu global warming di seluruh penjuru dunia membuat kita mengetahui betul apa saja yang menjadi penyebab ini semua terjadi. Memang, ini semua tidak lepas dari kelakuan kita yang terkesan banyak keinginan tanpa dibarengi dengan upaya penggantian dan ketidakpedulian kita terhadap alam dengan semua kelakuan kita yang secara tidak langsung dapat mengancam alam.

Dalam upaya memperbaiki alam dengan adanya isu global warming, banyak sekali hal-hal yang menjurus ke ramah lingkungan. Seperti yang kita tahu, banyak produk-produk yang diubah untuk sejalan dengan ramah lingkungan seperti AC tanpa gas Freon yang dianggap dapat merusak lapisan ozon. Tidak hanya itu, banyak organisasi-organisasi atau bahkan pemerintah menyerukan ramah lingkungan seperti terciptanya program “one man one tree”. Kembali ke alam memang hal yang paling bijak yang dapat mengurangi efek global warming.

Salah satu cara untuk mensukseskan program ramah lingkungan adalah dengan menggunakan bahan baku kayu. Dari bahannya saja ini sudah dapat dikatakan “bersahabat” dengan alam. Sebagian orang mungkin akan menyanggah ide ini dikarenakan kayu sendiri berasal dari pohon sedangkan ketika kebutuhan akan pohon meningkat, ini bisa saja membuat hutan semakin semakin gundul dan ya.. justru malah memperburuk keadaan.

Tetapi ide ini justru tidak akan memperburuk keadaan jika kita tepat dalam bertindak. Untuk mendapatkan pohonnya sendiri, kita bisa melakukan sistem “tebang pilih” di mana kita memilih pohon yang sudah tua. Tentunya penebangan pohon harus disertai juga dengan penanaman kembali (reboisasi). Ada juga cara lain yang dianggap lebih inovatif yaitu menjadikan pohon sebagai tren.

Jika pohon menjadi sebuah tren, bukan tidak mungin kalau para produsen melirik ini sebagai keuntungan. Mereka akan berusaha memperoleh pohon sebanyak-banyaknya. Tanpa dibarengi dengan reboisasi, ini tidak akan mungkin bisa sehingga para produsen mau tidak mau harus menanam pohon demi tercapainya keuntungan yang melimpah.

Adapun bagi kita sebagai konsumen, ini tidak akan merugikan sama sekali dengan mengganti peralatan rumah kita dengan yang berbahan kayu. Bandingkan saja dengan peralatan yang terbuat dari plastik. Plastik membutuhkan waktu beratus-ratus tahun lamanya untuk bisa terurai dan jika plastik terbakar, ini bisa menimbulkan asap racun yang membahayakan kesehatan. Sedangkan kayu, penggunaanya lebih aman tidak peduli kayu itu sudah menjadi sampah dan tidak terpakai lagi.

Mulailah dengan sesuatu yang sederhana. Ingatlah selalu paham alam , tidak perlu berharap perubahan datang dengan secepatnya. Perlahan tapi pasti perbuatan kita akan mengubah alam.
Read More..

Sabtu, 04 Desember 2010

Pikiran Rancu

Rasa suka kepada lawan jenis itu manusiawi. Bahkan katanya kita perlu bersyukur sudah dianugerahkan rasa itu. Kalau saya, sudah tidak usah ditanya apakah saya pernah suka kepada seseorang. Banyak laki-laki yang membuat mata saya susah berkedip. Ketika mengalaminya, saya jadi suka menghayal. Ditambah karena saya suka lagu-lagu Yovie and Nuno, sepertinya mendukung sekali untuk meneruskan khayalan itu.

Sempet ngiri juga kepada mereka yang mempunyai pacar. Sebagai perempuan, wajarlah jika saya kadang merasa seperti itu karena kan perempuan identik dengan kebutuhannya untuk diperhatikan laki-laki. Sebenarnya jika saya bulat untuk pacaran, masalah siapa laki-lakinya itu urusan gampang. Tapi ya karena saya penuh pertimbangan, jadi semuanya tidak jadi.

Tidak mau pacaran bukanlah tuntutan kerudung atau jabatan tapi lebih karena ke-ilfeel-an saya pada hubungan pacaran itu sendiri. Terlalu berlebihan jika setiap saat saya harus disuguhkan pertanyaan yang tidak bermutu. Lagi apa? Udah makan? apalagi jika pertanyaan itu memakai iming-iming seperti “sayang”. Dan kadang dalam pacaran, kemungkinan untuk mengeluh satu sama lain besar. Saya tidak suka orang yang selalu mengeluh walaupun itu berupa smiley grafik.

Khawatir jika nantinya susah untuk bertemu jodoh bukanlah pertanyaan prioritas saya dalam menjalani hari esok. Untuk sekarang, saya biarkan laki-laki yang saya sukai berada meracuni otak saya tapi tidak untuk meracuni hati saya dan juga tidak untuk membuat kewajiban saya (pelajar) menjadi terbengkalai.

Itulah pandangan saya. Beda orang, beda persepsi.
Read More..

Kamis, 16 September 2010

Inspiration for My Life

Semua orang tau kalau sosok ibu amatlah mulia. Saking mulianya, ada istilah surga di telapak kaki ibu. Awalnya saya aneh adakah surga di kaki mamah saya? Tapi mungkin istilah itu mencerminkan kalau kita ingin masuk surga, harus taat kepada ibu.

Alhamdulillah, sampai saat ini saya masih bisa merasakan sosok seorang ibu (yang biasa saya panggil mamah). Banyak kebanggaan saya tercurah pada mamah. Secara formal, mamah seorang kepsek+guru TK tapi kalau di rumah, profesi mamah bertambah jadi koki, guru segala ilmu, konsultan, komplit walaupun tanpa gaji. Jika saya membayangkan apakah saya sanggup jadi seorang ibu atau jangan jauh dulu, menggantikan kewajiban mamah terhadap kami anak-anaknya, saya tidak akan sanggup. Tapi bagaimanapun juga saya harus belajar hal ini karena kelak saya akan hidup mandiri.

Tidak perlu disebutkan detail jasa mamah kepada saya. Sampai sekarang saya bisa seperti ini, tidak lepas dari sosok mamah yang mengajarkan banyak hal. Pernah saya marah pada mamah tapi mamah selalu punya cara untuk membuat saya kembali senyum dengan rayuan guru TK yang mamah kuasai. Ya, hal yang menurut saya susah untuk dimaafkan tapi mamah bisa memutarbalikan itu.

Kadang, saya membandingkan mamah saya dengan orang lain. Saya iri dengan ibu-ibu lain yang begitu hi-tech, gaul, dan terutama mereka bisa membuat kue. Semua itu tidak ada pada sosok mamah saya. Malah mamah orangnya bawel dan sangar, maksudnya kalau beliau marah, marahnya bisa menjalar ke semua orang. Bahkan ketika beliau ngomong saja suaranya menggelegar, haha…

Tapi, justru yang seperti itulah yang membuat saya tambah sayang kepada mamah. Lama kelamaan, saya sadari jika semua kekurangan mamah merupakan hal yang manusiawi, wajar serta dapat menjadi keunikan tersendiri dari sosok mamah. Bahkan bisa jadi itulah kelebihan mamah dibanding dengan mamah-mamah lainnya yang ada di dunia. Mungkin keluhan tadi hanya berlaku sesaat dan di bibir saja.

Satu hal yang dapat saya pahami dari mamah bahwa di dunia ini tidak ada yang kurang. Boleh saja kita melihat itu sebagai kekurangan tapi dari segi pandang lain kita bisa menggangap itu sebaga kelebihan. Seperti Gery Chocolatos, kita boleh merasa kurang akan porsinya tapi ketika kita santap, kita akan merasakan kelebihan dari coklatnya yang penuh tidak ada bolongnya. Tuhan sudah memberikan semua ini untuk makhluk-Nya. Tidak pantaslah jika kita sombong akan kelebihan dan mengeluh atas kekurangan.

Jadi, dalam keadaan apapun sepatutnyalah kita harus bersyukur akan kehadiran ibu dalam hidup kita dan jangan pernah menganggap kita tidak beruntung mempunyai ibu yang kita miliki sekarang.

Terakhir untuk mamah, terima kasih karena selama ini telah mengisi kehidupan dunia saya dan telah menjadi inspirasi bagi saya.

Read More..

Kamis, 02 September 2010

Ramadhanku

Ramadhan kali ini terasa berwarna. Mungkin karena banyak hal baru yang saya jalani juga banyak hal yang bisa menambah pendewasaan diri
Kesabaran saya di uji pada bulan ini. Mungkin karena saya selalu memikirkannya, jadi saya merasa berat sekali untuk sabar. Pernah saya bicara kepada Tuhan. Sambil menangis, saya mengeluh kepada Tuhan atas apa yang saya hadapi. Setelah emosi saya habis, baru terpikir jika apa yang saya lakukan tadi sangatlah bodoh. Menangisi takdir sendiri padahal saya tau Tuhan tidak suka kepada mereka yang mengeluh apalagi menyesali takdir.
Bahkan hal yang sifatnya pribadi yang mengenai "mantan" kembali datang menyapa saya. Dia datang dengan sejuta sapa, keakraban dan membawa masa lalu kami. Dia juga datang dengan masa depannya yang telah dia jalani dengan sukacita. Hati masih ingin bersama tapi saya percaya hukum karma apalagi saya cewe. Bisa merasakan sendiri lah gimana rasanya ketika cewe lain merebut miliknya. Ya.. namanya juga masa lalu, hanya bisa mnjadi sejarah.
Jadi, memang benar ramadhan merupakan bulan penuh berkah. Tak terhitung nikmat-Nya. Bahkan ketika kita menahan lapar saja, itu merupakan kenikmatan tersendiri, bukan sebuah beban.
Read More..